31 Januari 2016

Yang Inipun Akan Berlalu

Pada suatu hari, seorang Bijak meminta kepada seorang tukang emas yang sudah tua renta untuk membuat cincin dan menuliskan sesuatu di dalamnya.

Sang Bijak berpesan, "Tuliskanlah sesuatu yang bisa di simpulkan dari seluruh pengalaman dan perjalanan hidupmu supaya bisa menjadi pelajaran bagi hidupku".

Berbulan-bulan si tukang emas yang tua membuat cincin tersebut merenung kalimat apa yang patut diukir di cincin emas yang kecil itu.
Akhirnya, si tukang emas mengukir sepotong kalimat, dan menyerahkan cincinnya pada sang Bijak.

Dengan tersenyum,  sang Bijak membaca tulisan kecil di cincin itu.
Bunyinya,

"THIS TOO, SHALL PASS"
("Yang inipun, akan berlalu").

Awalnya sang Bijak tidak terlalu paham dengan tulisan itu. Tapi suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan hidup yang pelik, tak sengaja ia membaca tulisan di cincin itu
"YANG INI PUN AKAN BERLALU",
lalu ia pun menjadi lebih tenang

Dan tatkala ia sedang bersenang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu
"YANG INI PUN AKAN BERLALU",
lantas ia menjadi rendah hati kembali.

Ketika kita mempunyai masalah besar ataupun sedang dalam kondisi terlalu gembira, ingatlah kalimat
" YANG INI PUN AKAN BERLALU "

Tidak ada satupun di dunia ini yang abadi. Jadi, ketika kita punya masalah, jalanilah dan janganlah terlalu bersedih. Demikian juga tatkala kita sedang senang,
nikmatilah dan syukuri.

Ingatlah, apapun yang kita hadapi saat ini, semuanya akan berlalu.

Untuk itu :
• Tetaplah SEJUK di tempat yang Panas..
• Tetaplah MANIS di tempat yang begitu Pahit..
• Tetaplah merasa KECIL meskipun telah menjadi Besar.. dan
• Tetaplah TENANG di tengah Badai yang paling Hebat..

THIS TOO SHALL PASS ...

Dari berbagai sumber di Internet

12 Januari 2016

Buah Dari Keikhlasan


Sore hari, 20 tahun yang lalu, seorang bocah kecil mendatangi sebuah warung Tegal di pinggir jalan yang selalu ramai didatangi orang orang sekitar, Setelah menunggu lama hingga semua pelanggan keluar , barulah ia berani masuk ke dalam dan berkata:

“Saya mau membeli sebungkus nasi putih saja, terima kasih!”

Suami istri pemilik warteg tersebut melihat bocah kecil itu sama sekali tidak memilih lauk, namun tanpa bertanya apa-apa, dia membungkus nasi putih yang cukup banyak serta memberikannya kepada dia. Pada saat bocah kecil itu membayar, ia berkata

“Apakah saya boleh menambah sedikit kuah saja dari lauk yang ada diatas nasi putih saya?”

Pemilik warung tersenyum ramah berkata: “Boleh silahkan, tidak usah bayar nak!”
Setelah mendengar bahwa kuah lauk ternyata gratis, ia segera memesan semangkuk nasi putih lagi. Pemilik warung itu berkata: “Apakah semangkuk tidak cukup nak? Kalau begitu aku tambahkan saja porsi nasinya ya..”
Bocah tersebut berkata “Oh, enggak kok buk ! Nasi yang dibungkus ini rencananya akan saja buat bekal untuk dibawa ke sekolah besok pagi.”

Pemilik warung tegal tersebut berpikir bahwa bocah kecil tersebut pastilah berasal dari keluarga yang kurang mampu serta hidup jauh dari keluarga demi menuntut ilmu.

Ia terlihat sangat berhemat dan mandiri. Pemilik warteh itu secara diam-diam menaruh 1 sendok besar lauk daging dan sebutir telur. Ia menutup semua lauk itu dengan nasi putih agar sama sekali tidak terlihat.

Istri dari pemilik warung Tegal tidak habis pikir mengapa lauk tersebut tidak ditaruh di atas nasi namun harus disembunyikan?

Pemilik warung berbisik kepada istrinya, “Jika bocah kecil itu tahu bahwa kita menambahi lauk di atas nasi putih tersebut maka bocah itu akan merasa kita sedang berbelas kasihan kepada dia dan secara tidak langsung mungkin saja kita menyakiti harga dirinya, dengan begitu dia bisa jadi sungkan untuk datang lagi kemari".

Jikalau dia akhirnya pergi ke warung lain dan hanya makan nasi putih saja, dari mana datangnya tenaga untuk belajar?”
  
Pada saat bocah kecil tersebut menerima sebungkus nasi yang cukup berat, dia tampak berulang kali melihat ke arah pasangan suami istri tersebut. Pemilik warung itu dengan tersenyum lebar berkata: “Semangat yah! Sampai jumpa besok!” Dia melambaikan tangannya serta dengan jelas mengisyaratkan kepada bocah tersebut untuk datang lagi besok hari.

Mata bocah kecil itu berkaca-kaca. Sejak saat itu hampir setiap hari kecuali hari libur, dia selalu datang untuk membeli dua bungkus nasi putih. Sebungkus nasi putih selalu dijadikan bekal di sekolah keesokkan harinya. Pemilik warung tersebut dengan setia memyembunyikan lauk rahasia di dalam nasi putih yang dibelinya.

Hingga kemudian bocah ini beranjak dewasa dan lulus dari universitas, selama 20 tahun pasangan suami istri ini pun tidak pernah melihat bocah itu lagi.

SINGKAT CERITA WAKTU BERLALU …
20 TAHUN KEMUDIAN

Suatu hari, pasangan suami istri yang sudah paruh baya ini menerima surat pemberitahuan dari PEMDA untuk pembongkaran warung mereka, sebab mereka memang berjualan di tanah milik negara. Hal ini membawa kesedihan bagi sang pemilik warteg dan Istrinya sebab Dalam usia sekian dengan kehilangan sumber pemasukan, mereka menjadi sangat khawatir akan masa depan,bagaimana menghadapi keadaan ekonomi yang pasti semakin sulit? Mereka hanya dapat menangisi keadaan mereka setiap hari.

Namun suatu hari, tiba-tiba datang seorang anak muda dengan berpakaian jas menghampiri warung mereka. Dia berkata: “Apa kabar, saya adalah wakil Direktur dari perusahaan XX, Direktur kami memberi perintah kepada saya untuk meminta Anda mengelola kantin bawah gedung kantor kami, seluruh biaya peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan akan ditanggung oleh kantor kami, anda hanya perlu mengarahkan team koki untuk memasak, kemudian keuntungannya akan dibagi rata dengan perusahaan!”

Pasangan suami istri tersebut dengan ragu-ragu bertanya: “Direktur perusahaan kalian itu siapa? Kenapa begitu baik sekali terhadap kami?”
“Kalian adalah penolong bagi Direktur perusahaan kami, Direktur perusahaan kami suka sekali makan lauk telur dan daging masakan kalian. Saya hanya mengetahui itu saja, untuk selebihnya kalian dapat menanyakannya langsung kepadanya!”

Ternyata Direktur itu adalah sang bocah cilik 20 tahun yang lalu setiap hari datang hanya membeli sebungkus nasi putih. Setelah lewat 20 tahun dia mulai membuka usahanya dan berhasil mendirikan sebuah perusahaan. Sekarang dia membalas budi kepada pasangan suami istri ini !

Mari kita Petik Pelajaran dari Kisah diatas....

Menolong dengan Tulus bagi sesama yang membutuhkan adalah hal yang Luar Biasa ! bahkan kalau perlu jangan sampai Orang yang kita tolong tahu bahwa kita menolong mereka, Tapi berharaplah balasan dari Tuhan, Tuhan pasti akan membalas kebaikan yang pernah kita lakukan, Yakinlah!
Mari berdoa agar kita bisa memberi secara Ikhlas seperti pemilik warung tersebut.. dan kita mau membalas Budi orang lain seperi yang dilakukan Anak kecil tersebut…. termasuk bagi yang menyebarkan kisah Inspiratif ini, terima kasih!

Sumber : sebarkanlah.com

30 Desember 2015

Temukan Cinta Dalam Bekerja

Bila Anda tak mencintai pekerjaan Anda, cintailah orang-orang yang bekerja disana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan pekerjaanpun menjadi menggembirakan. 

Bila Anda tak menyukai rekan-rekan kerja Anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor Anda. Ini mendorong Anda untuk bergairah untuk bekerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi. Toh jika Anda tidak bisa melakukkannya juga, nikmati pengalaman setiap pulang pergi dari dan ke ketempat Anda bekerja. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. 

Namun, bila Anda tak menemukan kebahagiaan disana, maka cintai apapun yang dapat Anda cintai dari kerja Anda: Tanaman hias, cicak diatas dinding atau gumpalan awan dari balik jendela kantor. Apa saja....

Bila Anda tak menemukan yang bisa Anda cintai dari pekerjaan Anda, maka kenapa Anda masih ada disitu? tak ada alasan bagi Anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah yang Anda cintai, lalu bekerjalah disana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan semua itu dengan rasa cinta yang tulus.

29 Desember 2015

Ayah

Ayah memang tidak mengandungmu, tapi dalam darahmu, mengalir darahnya...
Ayah memang tidak melahirkanmu, tapi suaranyalah yang pertama kau dengar ketikalahir untuk menenangkan jiwamu....
Ayah memang tidak menyusuimu, tapi dari keringatnyalah setiap suapan yang menjadi air susumu...
Ayah memang tidak menyanyikanmu, agar kau tertidur, tapi dialah yang menjamin kau tetap nyaman dalam lelapmu...
Ayah memang tidak mendekapmu seerat ibumu, itu karena dia khawatir karena cintanya ia tidak bisa melepaskanmu.. ketika kau sudah bisa membangun sendiri hidupmu...
Ayahmu tidak pernah kau lihat menangis, bukan karena hatinya keras, tapi agar kau tetap percaya, dia kuat untuk kau bisa bergantung dilengannya...
Sayangi dan hormati ayahmu.. memang surga ada ditelapak kaki ibumu, tapi tidak ada surga untukmu tanpa keridhaannya...
Memang kau diminta mendahulukan ibumu, tapi ayahmu adalah jiwa raga ibumu...

28 Desember 2015

Renungan Tentang Rezeki

Rezeki itu tidak terbatas pada harta dan makanan, rezeki Allah itu luas

Rezeki itu bisa berupa teman yang shalih,

Atau pikiran yang tenang dan rileks,

Atau tidur yang nyenyak,

Atau tempat bernaung yang membuatmu tidak butuh pada orang lain dan terhina,

Atau berupa pemandangan yang menyejukkan hati dan mengubah moodmu,

Atau berupa seseorang yang mencintaimu dan bersabar atas segala kesalahanmu,

Atau berupa kata-kata indah yang engkau baca,

Atau berupa kasih sayang ibu dan ayah,

Atau berupa pundak orang yang engkau cintai sebagai tempatmu menangis,

Atau berupa kesempatan duduk bersama saudara-saudaramu yang bisa membuatmu menghapus kegalauan,

Atau berupa rasa hormat dari orang-orang disekelilingmu,

Atau berupa hadiah dari orang yang begitu berarti bagimu,

Atau berupa kemampuanmu untuk melayani diri sendiri,

Belajarlah memaknai setiap pemberian Allah, Jangan lupa untuk selalu mengiringi karunia-Nya dengan syukur..

Begitulah..

Disetiap kondisi selalu ada rezeki Allah untuk kita.

09 Desember 2015

Berseteru Memperebutkan Ibu

Pada salah satu pengadilan Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdirilah Hizan al Fuhaidi dengan air mata yang bercucuran sehingga membasahi janggutnya. Apa sebabnya? Karena ia kalah dalam perseteruannya dengan saudara kandungnya.

Mengenai apakah perseteruan dengan saudaranya itu?, Tentang tanahkah?, atau warisan yg mereka saling perebutkan?

Bukan karena itu semua!!

Ia kalah terhadap saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yg sudah tua renta dan bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg telah keriput.

Seumur hidupnya, ibunya tinggal dengan Hizan yg selama ini menjaganya.

Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yang tinggal di kota lain, utk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dengan alasan, fasilitas kesehatan dan sebagainya di kota jauh lebih lengkap daripada di desa.

Namun Hizan menolak dengan alasan, selama ini ia mampu untuk menjaga ibunya. Perseteruan ini tdk berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan.

Sidang demi sidang berlalu, hingga pada akhirnya sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis.

Kedua bersaudara ini membopong ibunya yang sudah tua renta yang beratnya sudah tidak sampai 40 Kg.

Sang Hakim bertanya kepadanya, siapa yang lebih berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun menjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!”

Kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!".

Sang Hakim berpikir sejenak kmudian memutuskan hak kepada adik Hizan, berdasar kemaslahatan bagi si ibu.

Betapa mulia air mata yg dikucurkan oleh Hizan. Air mata penyesalan karena tidak bisa memelihara ibunya tatkala beliau telah menginjak usia lanjutnya.

Dan, betapa terhormat dan agungnya sang ibu, yang diperebutkan oleh anak-anaknya hingga seperti itu.

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia menjadi ratu dan mutiara termahal bagi anak-anaknya.

Ini adalah suatu pelajaran mahal tentang berbakti, tatkala durhaka sudah menjadi budaya.

“Ya ALLAH, Yaa Robb kami!! Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya!!” aamiin

Copas dari Sahabat yang baik hati

#Doaibu
#Ibunda
#Ibu
#Doaseorangibu

Sumber : www.aryginanjar.com

13 November 2013

Ucapan Yang Membangun dan Menghancurkan Masa Depan Anak

Jodi Foster pernah menerima Piala Oscar sebagai aktris terbaik dalam salah satu film layar lebar. Saat penyerahan piala tersebut, dari atas panggung dia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya hingga meraih penghargaan ini.Yang menarik, ucapan terima kasihnya yang pertama ditujukan kepada IBUNYA.

Kira-kira ucapannya seperti ini,:


“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ibu saya. Sewaktu saya masih kecil, Ibu selalu mengatakan bahwa semua lukisan tangan saya itu setara dengan karya Picasso.

Pada saat saya sedang dalam keadaan sulit, ia selalu bilang:

"Jodi, kamu pasti bisa mengatasinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan".

"Dan, kata-kata inilah yang selalu terngiang di benak saya hingga akhirnya saya yakin dan mampu untuk menjadi seorang seniman sehebat Picasso.”

Ternyata, dulu Jodi Foster sangat gemar melukis. Dan, sering kali mengganggu ibunya hanya untuk memperlihatkan hasil lukisan-lukisannya yang pada saat itu semuanya masih tampak seperti benang kusut.Tetapi apa yang terjadi jika seandainya yang diucapkan oleh ibunya adalah seperti ini:

“Jodi jangan pernah ganggu pekerjaan ibu lagi dengan lukisan-lukisan burukmu itu ya. Sudahlah Jodi, kamu tidak akan pernah mampu untuk menjadi seniman. Cepat sana segera selesaikan PR-mu, sebelum ibu berubah pikiran!”

Kalimat-kalimat negatif seperti ini akan meninggalkan kesan dan luka yang mendalam bagi diri seorang anak. Bisa jadi, kalimat tersebut akan tertanam di dalam benaknya sepanjang hidupnya. Dalam beberapa kasus ditemui, pengaruh kata-kata di duga lebih menghancurkan hidup seorang anak daripada kekerasan yang menyangkut fisik.

Kata-kata yang kita ucapkan kepada anak membawa pengaruh besar bagi hidupnya karena setiap kata atau kalimat yang diucapkan sekaligus membawa pesan tersirat tentang dirinya, baik berhubungan dengan kemampuan ataupun ketidakmampuannya.

Begitu si anak menyimpan pesan itu dalam batinnya, pesan itu lama-lama menjadi suatu keyakinan dan pembenaran atas setiap kegagalan yang dialaminya. Bahkan, sering kali kata negatif yang telah terserap dalam alam bawah sadarnya tetap bekerja, meskipun ia tidak menyadarinya.

Bayangkan, pada saat dilakukan penelitian terhadap kekuatan kalimat positif, Douglas Bloch mewawancara dua kelompok, yakni orang-orang yang sukses dan orang-orang yang tinggal di penjara. Ternyata ada perbedaan besar sekali mengenai kata-kata yang dulu sering didengar dari orangtua mereka.

Inilah kata-kata yang dulu sering didengar oleh sebagian besar kelompok orang yang dipenjara:

“Kamu memang anak sialan, lihat saja nanti kelak hidupmu akan berakhir di penjara!”

Sementara itu, inilah kata-kata yang dulu sering didengar oleh kelompok orang-orang yang sukses. Mereka selalu diberikan dua jenis kalimat positif, yaitu kalimat penghargaan dan penguatan.

Kalimat Penghargaan :

- “Lihat betapa bagusnya kamu melakukan itu.”

- “Terimakasih, kamu telah menepati janji.”

- "Terimakasih, kamu telah membantu Ibu"

- “Papa sungguh berterimakasih, kamu telah mau berusaha.”

Kalimat Penguatan :

- “Mama yakin, kamu akan mampu mengatasinya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!”

- “Mama yakin, kamu sesungguhnya anak baik, hanya mungkin kali ini kamu sedang terpengaruh oleh teman-temanmu yang tidak baik. Apakah kamu mau bila mama membantumu untuk bisa menjadi baik seperti dulu lagi?”

Sebagaimana dijelaskan di dalam bukunya, “Mendidik Anak Zaman Sekarang Ternyata Mudah, lho,” (Penerbit Tangga Pustaka) ternyata sungguh betapa dahsyatnya efek dari kalimat-kalimat negatif bagi masa depan seorang anak!

Namun, berita baiknya adalah ternyata pengaruh kalimat-kalimat negatif tersebut masih bisa dihapuskan melalu kalimat-kalimat positif. Terlebih lagi yang mengucapkannya adalah orangtua atau gurunya sendiri.

Jadi, segeralah ganti kalimat-kalimat kita yang selama ini bernuansa negatif dengan kalimat positif.

Berikut adalah beberapa contoh kalimat negatif yang mungkin dulu sering kita dengar dari para guru dan orangtua.

“Aduh, kamu susah amat ya diajarinya?”

Coba kita ganti dengan :

“Ibu Guru yakin, kamu sebenarnya mampu mengerjakannya. Kamu hanya perlu waktu saja. Ayo kita coba sekali lagi ya!”

Ingat, kalimat mana yang kita pilih, itulah yang akan mempengaruhi pada masa depan anak-anak tercinta..!!!

Demi masa depan anak-anak kita yang lebih baik, mulai hari ini juga, mari kita biasakan untuk selalu mengucapkan kalimat-kalimat positif dengan penuh kasih sayang pada mereka setiap hari.


================================================================
Kisah ini adalah salah satu dari 60 Kisah Inspirasi dalam buku Ayah Edy yang berujudul: "Ayah Edy Punya Cerita..."