08 November 2010

Biasanya Ayah ....

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja diperantauan, anak perempuan yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya ….. akan sering merasa kangen sekali dengan ibunya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?

Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata ayah-lah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu…

Kemudian Ibu bilang : “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba.. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang”
Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata :

“Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!”.

Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja…. Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.

Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga... Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu…
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Ibu…Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia… . :)
Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu...
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir…Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut…Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu...

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang?
“Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah”.

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Sarjana. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti…
Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah... Ketika kamu menjadi gadis dewasa…Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain…
Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati... , Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”.

Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa. Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.

Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan…
Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang”.

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya. Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin...
Karena Ayah tahu… Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
Dan akhirnya…, Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia...

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Ayah menangis karena merasa sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa… Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata:
“Ya Allah, ya Tuhanku …..Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik… Bahagiakanlah ia bersama suaminya…”.

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk… Ayah telah menyelesaikan tugasnya menjagamu…
Ayah, Bapak, atau Abah kita…Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat…
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu...
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal..

29 Oktober 2010

Masih Mengeluhkah Dengan Kehidupan Anda Saat Ini ?

Apakah Anda masih mengeluh dengan hidup Anda saat ini? Apakah Anda masih belum bisa mensyukuri Hidup ini? Sebelum Anda menjawabnya ada baiknya Anda melihat gambar dibawah.

Silahkan dilihat...


Setelah melihat gambar diatas, masih mengeluhkan Anda? Jika Anda merasa hidup Anda itu tidak sempurna atau semulus yang Anda mau Lalu Anda mengeluh....., Bagaimana dengan Mereka?

Apakah BEBAN yang mereka tanggung SEBERAT BEBAN yang Anda bawa?

Terkadang manusia suka tidak puas dengan apa yang telah dimilikinya pada saat sekarang ini (mungkin juga termasuk saya dan Anda), tapi jika melihat gambar-gambar diatas kita seharusnya sadar masih banyak di sana saudara-saudara kita yang hidupnya lebih menderita dan tidak seberuntung kita.

Mungkin kita masih sering mengeluh dalam hidup ini dan selalu membanding-bandingkan diri kita dengan kehidupan dan kondisi orang lain yang lebih enak dan lebih baik. Tapi kita melupakan sesuatu, sesuatu dimana ternyata masih banyak orang yang kehidupannya masih jauh dibawah kita. Dan mereka benar-benar membutuhkan kehidupan yang lebih baik, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan itu semua tanpa bantuan dan uluran tangan dari orang lain seperti kita.

Semoga semua ini menjadi pelajaran hidup buat kita semua agar kita selalu menjadi orang-orang yang selalu bersyukur atas segala apa yang telah kita terima dari yang Maha Kuasa karena sesungguhnya HIDUP INI adalah ANUGERAH.

TETAP SEMANGAT...LUAR BIASA...YESS..!!!

08 September 2010

Semua Ayah Lakukan Demi Kamu, Nak!

Kalau membaca cerita ini, saya merasa tersentuh. Cerita ini memberi inspirasi bagi saya untuk menulis. Karena apa yang dikisahkan boleh dibilang mirip dengan kondisi yang saya alami saat ini. Cerita ini saya dapat dari e-mail yang masuk ke inbox saya. Berikut ini kisahnya :

Rudi, seorang Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, seperti biasa tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?” “Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?

Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

Dari cerita diatas saya hanya dapat merenungi dengan apa yang saya alami sendiri saat ini. Bekerja berjauhan dengan keluarga. Terpisahkan oleh jarak dan waktu. Bekerja meninggalkan istri dan seorang anak yang sedang lucu-lucunya. Seorang anak yang masih membutuhkan belaian kasih sayang ayahnya. Tetapi apa daya karena tuntunan pekerjaan dari kantor yang memindah saya ke Jakarta. Dan demi mencari nafkah buat mereka suka atau tidak kondisi ini harus saya jalani.

Mungkin anak dalam cerita diatas masih termasuk beruntung. Setiap hari ayahnya pulang kerumah meski pulangnya telah larut malam dan dia tidak sempat bertemu muka dengan ayahnya karena telah tertidur. Tetapi paling tidak dia masih sempat merasakan belaian tangan ayah diwajah dan rambutnya serta kecupan sayang dikeningnya.

Sedangkan anak saya hanya bisa bertemu dan bercengkerama dengan saya minimal 3 minggu sekali bahkan bisa 1,5 bulan sekali kalau pas kebetulan saya pulang ke rumah di Gresik. Untuk mengobati rasa rindu kepadanya saya telepon dia. Dan biasanya setelah itu kerinduan itu sedikit terobati. Itulah mengapa ketika saya berada dirumah, waktu terasa mahal harganya. Dan ketika dirumah saya tidak pernah menolak permintaan dia untuk mengajaknya jalan-jalan. Mungkin seperti kondisi seperti inilah yang dialami oleh ayahku dulu dalam mencari nafkah untuk anak-anaknya. Melihat ini saya merasa lebih menghargai atas apa yang telah beliau lakukan.

Yang paling membuat saya sedih kala istri telepon kalau anak saya sakit. Kalau sudah seperti itu langsung saya suruh periksakan dia ke dokter.

Memang hidup adalah perjuangan dan perjuangan membutuhkan pengorbanan. Orang bijak bilang, ketika satu pintu kesempatan telah tertutup, Allah membukakan pintu yang lain. Tetapi kadang orang selalu menunggui pintu yang telah tertutup itu sehingga tidak melihat pintu lain yang telah dibukakan untuk kita.

Dari kata-kata itu akhirnya saya bisa memahami bahwa di Jakarta inilah pintu kesempatan lain yang telah Allah bukakan untuk saya. Kuncinya selalu berpikir positif dan melihat jauh kedepan. Serta membulatkan tekad dan niat bahwa apa yang kita lakukan saat ini yaitu bekerja mencari nafkah buat keluarga semata-mata hanya untuk beribadah dan mencari ridho Allah.

Akhirnya saya hanya bisa berkata...

Maafkan ayah, Nak!. Karena tidak bisa memberikan kasih sayang padamu setiap hari. Tidak bisa membelai rambutmu... Tidak bisa mengusap kepalamu... Tidak bisa mencium wajahmu... dikala dirimu tidur. Tidak bisa mengantarkanmu ke dokter disaat kamu sakit. Tidak bisa menemanimu belajar dan bermain. Semoga kelak engkau bisa mengerti, bahwa apa yang ayah lakukan ini semua hanya demi kamu ....

29 Juni 2009

Teka-Teki Imam Ghazali

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya ( Teka-Teki ) :

Imam Ghazali = " Apakah yang paling dekat dengan diri kita didunia ini?"

Murid 1 = " Orang tua "

Murid 2 = " Guru

Murid 3 = " Teman "

Murid 4 = " Kaum kerabat

Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = " Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?"

Murid 1 = " Negeri Cina "

Murid 2 = " Bulan"

Murid 3 = " Matahari "

Murid 4 = " Bintang-bintang "

Iman Ghazali = " Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama".

Iman Ghazali = " Apa yang paling besar didunia ini ?"

Murid 1 = " Gunung "

Murid 2 " Matahari "

Murid 3 = " Bumi "

Imam Ghazali = " Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita,jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka."

Imam Ghazali = " Apa yang paling berat didunia ?"

Murid 1 = " Baja"

Murid 2 = " Besi"

Murid 3 = " Gajah "

Imam Ghazali" Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah."

Imam Ghazali = " Apa yang paling ringan di dunia ini ?"

Murid 1 = " Kapas"

Murid 2 =" Angin "

Murid 3 = " Debu "

Murid 4 = " Daun-daun"

Imam Ghazali = " Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat ".

Imam Ghazali = " Apa yang paling tajam sekali didunia ini"

Murid- Murid dengan serentak menjawab = "Pedang "

Imam Ghazali = " Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri ".

27 Juni 2009

Renungan Motivasi

Pada kesempatan ini saya tuliskan tentang segala hal yang bisa kita lakukan dengan mudah dan ringan. Hal-hal tentang renungan Motivasi dan ide tip praktis. Semoga renungan ini bisa menjadi “Self Reframing” - Merubah Cara Pandang di dalam diri sendiri.

1. TAKLUKKAN DIRI SENDIRI
“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat. Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)

Perenungan Diri:
  1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.
  2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.
  3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”
  4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.
  5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.
  6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
  7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.
  8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…
Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?

2. BELAJAR DARI KEKALAHAN

“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan, sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )
Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
  • Duduk diam dan tarik nafas panjang
  • Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
  • Ambil pelajaran dari kekalahan itu
  • Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
  • Hembuskan nafas secepat mungkin
  • Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin.
  • Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.

3. PELAUT TANGGUH …

(BayangkanWS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan bacakan lirik di bawah ini, bak WS Rendra)
Hidup adalah rangkaian masalah.
Jika kita melihatnya sebagai masalah.
Hidup adalah rangkaian tantangan.
Jika kita melihatnya sebagai peluang.
Tantangan penting untuk otot pikiran.
Tantangan membuat kita bertumbuh.
Tantangan membuat kita kreatif.
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas)
Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.
Karena artinya kita memiliki peluang.
(tahan nafas di perut dan baca dengan keyakinan kuat)
Ya, sebuah peluang untuk Menang.
Pepatah kuno mengatakan:
“Lautan yang tenang, tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”
Atasilah masalah dengan:
Tetaplah tersenyum.
Tetaplah bergandengan tangan.
Kita hanyalah berbeda, itu saja.

4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES

“Tidak Ada Jalan yang Mulus untuk Sukses, Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )
Perenungan Diri:
Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat
otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan
“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.
“Anda tidak mungkin memahami Work Smart, sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)
Situasi Indonesia boleh tidak menentu, tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.
Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.

5. SIAPA YANG KAYA?

“Siapa yang kaya? Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)
Perenungan Diri:
Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri saja bahwa hal ini benar.

6. CHOOSE TO BE HAPPY …

We always have a choice
We can choose to be happy
or we can choose to be grumpy
But It’s always better, smarter and wiser
to choose to be happy… (Melody Ross)
Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”

7. SETIA PADA HAL KECIL

Bukan tindakan besar dan hebat, yang menentukan hidup kita, melainkan kesetiaan dalam menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)
Perenungan Diri:
Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap. Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan. Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap. Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.
“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”
“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”
Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna. Dan, tekad besar untuk menelannya. Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita. Karena sang musuh adalah di ego diri.
Tapi, mungkin!

8. IMPIAN PERLU UJIAN

(Baca gaya retorik Bung Karno)
kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita disiniskan
kala warna semangat mulai meluntur
kala impian membuat hati bias
justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan
bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin
(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji
diuji untuk membangun keyakinan
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas panjang)
keyakinan untuk mencapainya

9. TUM SPIRO, SPERO

“Tum Spiro, Spero” artinya: “Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”
Buanglah kata menyerah dalam hidup ini. Hidup ini sangat berarti, berkaryalah. Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa. Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.
Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.
Hening membuat bening…
Bening membuat jelas…

9 Renungan Motivasi

Perenungan Motivasi dan ide tip praktis yang mudah dan ringan untuk dilakukan sendiri. Semoga renungan ini bisa berhikmah “Self Reframing” - Merubah Cara Pandang di dalam diri sendiri.

1. TAKLUKKAN DIRI SENDIRI

“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat. Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)
Perenungan Diri:
  1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.
  2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.
  3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”
  4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.
  5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.
  6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
  7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.
  8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…
Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?

2. BELAJAR DARI KEKALAHAN
 
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan, sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )
Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
  • Duduk diam dan tarik nafas panjang
  • Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
  • Ambil pelajaran dari kekalahan itu
  • Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
  • Hembuskan nafas secepat mungkin
  • Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin.
  • Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.

3. PELAUT TANGGUH

(BayangkanWS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan bacakan lirik di bawah ini, bak WS Rendra)
Hidup adalah rangkaian masalah.
Jika kita melihatnya sebagai masalah.
Hidup adalah rangkaian tantangan.
Jika kita melihatnya sebagai peluang.
Tantangan penting untuk otot pikiran.
Tantangan membuat kita bertumbuh.
Tantangan membuat kita kreatif.
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas)
Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.
Karena artinya kita memiliki peluang.
(tahan nafas di perut dan baca dengan keyakinan kuat)
Ya, sebuah peluang untuk Menang.
Pepatah kuno mengatakan:
“Lautan yang tenang, tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”
Atasilah masalah dengan:
Tetaplah tersenyum.
Tetaplah bergandengan tangan.
Kita hanyalah berbeda, itu saja.

4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES

“Tidak Ada Jalan yang Mulus untuk Sukses, Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )
Perenungan Diri:
Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat
otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan
“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.
“Anda tidak mungkin memahami Work Smart, sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)
Situasi Indonesia boleh tidak menentu, tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.
Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.

5. SIAPA YANG KAYA?

“Siapa yang kaya? Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)
Perenungan Diri:
Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri saja bahwa hal ini benar.

6. CHOOSE TO BE HAPPY 

We always have a choice
We can choose to be happy
or we can choose to be grumpy
But It’s always better, smarter and wiser
to choose to be happy… (Melody Ross)
Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”

7. SETIA PADA HAL KECIL

Bukan tindakan besar dan hebat, yang menentukan hidup kita, melainkan kesetiaan dalam menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)
Perenungan Diri:
Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap. Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan. Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap. Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.
“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”
“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”
Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna. Dan, tekad besar untuk menelannya. Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita. Karena sang musuh adalah di ego diri.
Tapi, mungkin!

8. IMPIAN PERLU UJIAN

(Baca gaya retorik Bung Karno)
kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita disiniskan
kala warna semangat mulai meluntur
kala impian membuat hati bias
justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan
bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin
(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji
diuji untuk membangun keyakinan
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas panjang)
keyakinan untuk mencapainya

9. TUM SPIRO, SPERO

“Tum Spiro, Spero” artinya: “Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”
Buanglah kata menyerah dalam hidup ini. Hidup ini sangat berarti, berkaryalah. Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa. Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.
Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.
Hening membuat bening…
Bening membuat jelas…

19 Juni 2009

Mengenang Seorang Lelaki Tua

Hari itu aku melakukan perjalanan dinas ke Bojonegoro. Setelah selesai mengerjakan rutinitas pekerjaanku dibeberapa pelanggan aku bergegas untuk segera kembali pulang ke Gresik. Sebelumnya aku belokkan dulu mobil yang kukendarai disebuah Masjid. Masjid yang biasa aku singgahi untuk sholat dan istirahat jika aku pergi ke kota itu. Karena waktu itu sudah masuk sholat Ashar dan takutnya nanti nggak keburu untuk sholat dirumah.

Selesai sholat aku istirahat sejenak lalu bersiap-siap untuk segera melanjutkan perjalanan. Ketika aku hendak beranjak menuju ke mobilku, seorang lelaki tua mendekatiku. Lelaki tua yang biasa aku temui di Masjid itu. Dengan menengadahkan tangan kanannya sambil memberi isyarat dimulutnya aku paham bahwa ia minta uang untuk makan. Kemudian aku rogoh kantung celanaku dan kuberikan kepadanya beberapa lembar uang ribuan sisa pengembalian dari warung saat aku makan siang tadi. Sesudahnya aku bergegas ke mobilku dan segera melanjutkan perjalanan kembali.

Sepanjang perjalanan aku merenungkan kejadian tadi. Mengapa orang setua itu lontang lantung di Masjid dan jalanan tanpa ada yang memperdulikannya. Apakah dia masih memiliki keluarga ?. Kalau ada lalu dimanakah anak-anaknya?. Mengapa mereka membiarkan ayah mereka dalam kondisi seperti itu.

Teringat aku akan sebuah kisah yang pernah kubaca di internet. Kisah seorang lelaki yang tinggal dengan istri, anak dan ayahnya. Pada suatu ketika didaerahnya terjadi banjir bandang yang menenggelamkan kampung dan rumahnya. Dalam kepanikan dia berusaha menolong istri, anak dan ayahnya. Dalam satu kesempatan akhirnya sebatang kayu dari pohon yang hanyut mampu dia raih. Dia mencoba menolong mereka. Sayang kayu itu hanya mampu buat pegangan untuk 2 orang saja. Kebimbangan sempat menyelimuti hatinya, antara menolong Ayah, Istri atau anaknya. Dan akhirnya dia meraih tangan ayahnya untuk berpegangan pada sebatang kayu itu. Dengan sedih dia melihat istri dan anaknya perlahan-lahan tenggelam lalu hanyut terbawa arus banjir.

Singkat cerita bapak dan anaknya itu selamat dan saat berada dipengungsian beberapa orang bertanya kepada lelaki itu dengan pertanyaan yang hampir sama.

"Mengapa engkau lebih memilih menyelamatkan ayahmu yang sudah tua daripada istri dan anakmu?"

Orang itu menjawab ,"Bukannya aku tidak sayang kepada istri dan anakku tapi bagiku ayah adalah segalanya bagiku. Beliau hanya aku punyai sekali seumur hidup dan tidak akan dapat digantikan oleh siapapun. Sedangkan istri dan anakku semoga mereka tenang disisi Allah, aku juga sangat menyayangi mereka.Dan kelak jika Allah menghendaki dapat memberikan gantinya kepadaku dengan yang lebih baik."

Sejenak anganku terbayang kembali kepada sosok lelaki tua lain yang tergolek lemah tanpa daya diatas tempat tidur dikarenakan penyakit stroke yang dideritanya. Ketika aku terakhir pulang menengoknya hatiku merasa sedih sekali. Lelaki yang dulu terlihat kuat dan tegap meskipun dipundaknya menanggung beban berat untuk memperjuangkan hidup demi keluarga dan anak-anaknya kini tergolek lemah tanpa daya.

Kini setelah lebih 2 tahun ingatan itu kembali terlintas. Dalam hatiku aku hanya bisa berkata :

"Maafkan aku ayah, karena kesibukanku kita jarang sekali bertemu muka, jarang bicara dan bercengkrama seperti masa yang lalu. Maafkan aku karena tidak dapat menungguimu disaat-saat terakhirmu. Walaupun mulutku diam dan berusaha tegar, tapi dalam hatiku merasa sangat kehilangan. Hanya doa-doa yang dapat aku panjatkan, sebagaimana yang pernah engkau ajarkan padaku dulu. Aku tahu engkau adalah orang yang baik. Begitu baik... dan seorang ayah yang bertanggung jawab. Begitu beruntungnya aku begitu juga adik-adikku mempunyai ayah seperti dirimu. Banyak orang yang telah menghina dan menyakitimu tapi engkau hanya diam dan tidak pernah membalas perbuatan mereka. Bagiku engkau adalah panutan dan tidak ada seorangpun yang dapat menggantikanmu. Karena dirimulah aku bisa seperti sekarang ini. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmatNya, mengampuni segala dosa dan menerima segala amal perbuatanmu serta hidup tenang disisiNya." Amiin..